Skip to main content

Tanpa Salam

Hari ini kamu pergi bertugas dalam ekspedisi. Kamu sibuk sekali mempersiapkan keberangkatan itu. Aku berusaha membantumu dalam persiapan semampuku. Ada kalanya aku bingung harus bagaimana. Baju mana yang akan kau kenakan hari Selasa, Rabu, dan Kamis? Barang apa saja yang akan kau bawa untuk pergi nanti? Setiap kali kutanya, jawabmu tak jelas dan tak membantu. Kau tak memberiku list perlengkapan, kau pun tak membantuku menjawab pertanyaan. Aku bingung, kau hanya menjawab singkat yang membuatku kesal. Ketika kau melakukannya sendiri aku juga kesal karena caramu salah. Saat ku koreksi, kau pun kesal karena merasa benar. Ini terjadi berulang kali.

Lalu di detik-detik keberangkatan, kau semakin sibuk dengan dirimu. Persiapan berangkatmu sangat menyita perhatian dan fokusmu. Disitu aku merasa kesepian. Padahal aku yang akan ditinggalkan lama, tapi kau tak semakin perhatian. Ah, aku memang manja. Aku ingin selalu menjadi yang utama.

Mungkin karena itu aku cemberut. Ditambah kau semakin jutek dan tidak sabaran. Bukankah seharusnya disaat seperti itu kau bersikap lembut padaku? Agar aku meniru kelembutanmu dalam menemani anak kita selama engkau pergi?

Akhirnya kita berpisah hanya dengan salim, tanpa salam dan senyum. Lagi-lagi begitu.


Comments

Popular posts from this blog

Ulang Tahun (?)

Akan ada satu tanggal yang selalu kalian anggap istimewa dari tanggal lainnya. Tanggal apa sih? Ya! Tanggal dimana kamu dilahirkan ke dunia 😊 Hari itu menjadi amat teristimewa untuk ayah bunda mu. Hari itu menjadi hari pertamamu merajut kehidupan sebagai manusia, pengemban amanah sebagai khalifah fiil ardh. Tanggal pada hari dirimu dilahirkan, akan selalu diingat ayah ibumu. Setiap tahun barangkali keduanya hendak senantiasa memeriahkan tanggal tersebut. Wajar. Namanya juga orangtua. Apapun demi kebahagiaan anaknya pasti akan dilakukan. Termasuk melakukan perayaan 'hari ulang tahun'. Duh, kenapa namanya mesti 'ulang tahun' ya? Logikanya nih, tahun tuh ngga bisa di ulang. Doraemon aja aslinya tuh kembali ke masa lalu. Bukannya ulang tahun, kan? Yah, din, ngga asik banget sih ngga setuju dengan konsep ulang tahun! Yee biarin. Konsepnya ngga masuk akal sih. Aku setuju kalau redaksi nya di ubah sedikit... jadi... tanggal kelahiran 😁 Maksa sih. Tap...

Sebentar

Menunggu jawaban sesingkat itu saja butuh waktu 18 menit. Lalu aku mulai paham. Sebentar. Untukmu itu..... Bisa aku pakai untuk pergi ke Bandung, lalu nyasar-nyasar dulu, sampai di RSHS, jenguk teman, terus nyasar lagi nyari pintu keluar, nunggu kendaraan, macet di jalan, makan siang, tidur siang, turun naik kendaraan, jalan kaki cari alamat, nyari makan malam, nunggu pesanan datang, liat 8 MV di putar di tv tempat makan, makanan habis, jalan kaki lagi, naik turun kendaraan lagi, hujan-hujanan, tidur malam, dan akhirnya pagi pun tiba Dan 'sebentar' milikmu itu masih berlangsung. Hmmm. Oke. 😐

Izzah

Seorang sahabatku di kampus, biasa saja tampilannya. Tak ada brand mahal yang melekat pada dirinya. Namun.. seluruh penghuni kampus mengenalnya. Jika ia berkata-kata, semua diam menyimak. Jika ia berjalan, yang akhwat tersenyum rindu, yang ikhwan menyingkir dari jalan seraya tertunduk. Ah, kagumku amat sangat untuknya. Sahabatku itu orangnya super dan ramah.. pada akhwat. Namun pada ikhwan, ia hanya seperlunya dan secukupnya. Awalnya aku merasa aneh sekali dengan sikapnya yang seperti ini. Kok jutek amat sama cowok.. tapi aku diam saja. Menyimak bagaimana Allah mendidik ku melalui sahabat baikku. "Ukh, untuk lokasi pengukuhan desember nanti sudah dapat?", tanya salah satu ikhwan Jawabnya, "Sdh" "Dimana?", tanya ikhwan itu lagi Jawabnya, "Sprti thn lalu" "Kalau butuh bantuan hubungi ana ya", lanjut ikhwan tersebut Jawabnya, "Y" Duh, masih inget baca chat beliau dengan ketua organisasi 😂 ketua umum lho ...