Hari ini kamu pergi bertugas dalam ekspedisi. Kamu sibuk sekali mempersiapkan keberangkatan itu. Aku berusaha membantumu dalam persiapan semampuku. Ada kalanya aku bingung harus bagaimana. Baju mana yang akan kau kenakan hari Selasa, Rabu, dan Kamis? Barang apa saja yang akan kau bawa untuk pergi nanti? Setiap kali kutanya, jawabmu tak jelas dan tak membantu. Kau tak memberiku list perlengkapan, kau pun tak membantuku menjawab pertanyaan. Aku bingung, kau hanya menjawab singkat yang membuatku kesal. Ketika kau melakukannya sendiri aku juga kesal karena caramu salah. Saat ku koreksi, kau pun kesal karena merasa benar. Ini terjadi berulang kali.
Lalu di detik-detik keberangkatan, kau semakin sibuk dengan dirimu. Persiapan berangkatmu sangat menyita perhatian dan fokusmu. Disitu aku merasa kesepian. Padahal aku yang akan ditinggalkan lama, tapi kau tak semakin perhatian. Ah, aku memang manja. Aku ingin selalu menjadi yang utama.
Mungkin karena itu aku cemberut. Ditambah kau semakin jutek dan tidak sabaran. Bukankah seharusnya disaat seperti itu kau bersikap lembut padaku? Agar aku meniru kelembutanmu dalam menemani anak kita selama engkau pergi?
Akhirnya kita berpisah hanya dengan salim, tanpa salam dan senyum. Lagi-lagi begitu.
Comments
Post a Comment